21 Desember 2020 10:37 wib

Program Studi Sosiologi Agama FIS UIN Sumut bersama Pusat Kajian Sosial, Agama dan Gender FIS UIN Sumut menggelar Webinar 02 dengan mengangkat tema " Kontestasi Agama dan Sains di Masa Pandemic ; Mungkinkah Berdamai? dengan narasumber , Prof. Al Makin, PhD (Guru Besar Filsafat UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta), Sidrotun Naim (Scientist & Policy Analyst Strategic Institute (INSTRA) Bandung, Wahyu Budi Nugroho (Sosiolog Univ Udayana dan Direktur Sangla Institute) dan Dr Irwansyah, M.Ag (Ketua Prodi Sosiologi Agama FIS UIN Sumut), Webinar nasional ini dipandu oleh Surya AdiSaputra, M.Hum, yang dilaksanakan pada Kamis 18 Juni 2020 pukul 10.00-12.30 Wib

Wahyu Budi Nugroho mengatakan bahwa bahwa pertentangan antara agama dan Sains merupakan warisan pencerahan eropa silam, Kecenderungan kita saat ini mereduksi agama pada kitab suci dan ritual saja. Seolah-oleh diluar dari kitab suci itu bukan agama. 
 

" Ini yang menjadikan kita sulit, menemukan ayat-ayat modern yang berkaitan dengan ekonomi, fisika dan lain sebaigainya, namun harus diakui Sains menjadi dominasi dunia, " ujarnya.

Sidrotum Naim mengatakan bahwa agama dan Sains mempunyai kontribusi masing-masing , misalnya saja Indonesia bahwa Islam masuk pada awal abad ke 8 , Ada nilai nilai lokal dan menjadi cara pandang dalam beragama. Agama dan Sains menjadi kesatuan dan kolaborasi apalagi pada masa pandemik.

" Pengambilan keputusan harus kolaboratif, baik dari kaum agama dan Sains, secara publik Sains di depan namun secara personal , agama menjadi identitas yang melekat, " katanya

Prof. Al Makin, PhD mengatakan saat ini ada yang disebut Psedosains (Sains Semu) seperti fenomena Sunda Empire, Borobudur, Gajah Mada, lagu balonku ada lima,  pemahaman Darwin dan lain sebagainya. Agama dan Sians pada hakikatnya adalah sejenis. Keputusan di publik bahkan politik tidak melibatkan Sains begitu juga olah raga dan seni mendapatkan tempat yang sedikit.

" Agamaisasi sudah sangat kuat di masyarakat, sudah masuk dalam ranah politik, sosial dan ekonomi, namun Sains justru sebaliknya, tidak relevan bagi masyarakat untuk mempertentangkan hal tsb, yang penting meningkatkan kualitas sains " katanya.