29 Juli 2020 22:45 wib

Indonesia merupakan negara yang mempunyai banyak jenis budaya, bahasa, ras, suku dan agama. Dengan majemuknya perbedaan tersebut, sikap toleransi harus dimiliki oleh masyarakatnya. Karena tidak memiliki sikap toleransi, maka akan terjadi konflik, baik itu antar budaya, ras, suku maupun agama. Dengan banyaknya keberagaman yang dimiliki oleh bangsa Indonesia, seharusnya itu dapat kita jadikan sebagai sebuah keindahan, bukan sebagai pemicu konflik. Keberagaman yang indah dapat dicontohkan dari dua lahan yang keduanya sama-sama memiliki tanah yang luasnya 1 hektar. Lahan yang satu ditanami bunga dengan satu warna dan satu jenis saja akan tetapi, lahan yang satu lagi ditanami dengan bunga yang berbagai warna dan berbagai jenis lahan manakah yang indah dipandang? Tentunya lahan yang memiliki bunga yang berbagai warna dan berbagai jenis.

Saat ini sikap intoleransi sangat marak terjadi di Indonesia, mulai dari perusakan rumah ibadah, pelarangan melakukan ibadah, pelecehan seksual, dan lain-lain. Dengan adanya sikap intoleransi tersebut pemuda harus menjadi pendobrak toleransi. Pemuda sebagai generasi penerus bangsa memegang peranan yang sangat penting dan membuat strategi untuk menjadi contoh nilai-nilai toleransi yang saat ini semakin luntur di Indonesia. Pemuda lah yang menjadi aktor perubahan untuk bangsa Indonesia. Maka dari itu, pemuda harus menjadi aktor besar dalam mencontohkan sikap toleransi. Akan tetapi, untuk pemuda yang sudah memiliki sikap toleransi harus dirawat dan dipertahankan. Jangan sampai pemuda yang sudah memiliki sikap toleransi tersebut malah jadi intoleransi. Perawatan untuk pemuda yang sudah mempunyai sikap toleransi bisa dilakukan dengan mengundang, mengajak dan menjadikannya peserta dalam pelatihan-pelatihan merawat keberagaman.

Di Sumatera Utara sendiri khususnya setiap tahun diadakan pelatihan pluralisme yang dilakukan sejak 2013 dan penyelenggaranya adalah NGO yang fokus terhadap isu-isu penghormatan terhadap keberagaman. Pada pelatihan ini pemuda/i dan kelompok korban yang menjadi sasarannya. Saat ini pelatihan pluralisme yang dilakukan NGO tersebut sudah memasuki angkatan VIII. Di dalam pelatihan ini banyak sekali kita dengar kasus intoleransi yang dialami oleh kelompok korban. Mulai dari rumah ibadah mereka dirusak, dibakar, disegel, dan pemberian cap sesat untuk mereka yang minoritas.

Dengan mendengarkan cerita yang mereka alami sangat tersentuh sekali hati. Sebegitu sulitnya kah untuk melakukan ibadah? Ibadah mereka yang sama sekali tidak ada pihak manapun dirugikan dan diganggu. Padahal di dalam UU dan Pancasila yang sebagai ideologi bangsa sudah tertulis bahwasannya setiap orang berhak memilih dan bebas memilih agama, aliran yang mau mereka yakini. Akan tetapi kenyataannya tidak ada sedikit pun kebebasan untuk memilih agama maupun aliran yang diyakini masing-masing. Contohnya saja, di Sumatera Utara terdapat agama Parmalim akan tetapi, anak yang masih duduk dibangku sekolah tidak dapat belajar pendidikan agama dengan agama yang mereka anut. Mereka disuruh memilih satu agama yang resmi dan merupakan prasyarat di dalam pendidikan. Bukankah mereka salah satu korban diskriminasi?

Bukan hanya melakukan pelatihan pluralisme saja, banyak NGO dan komunitas yang sering melakukan diskusi atau seminar-seminar yang berkaitan tentang keberagaman. NGO dan komunitas tersebut mengajak para mahasiswa/i untuk bersikap toleransi kepada sesama ataupun yang berbeda. Kegiatan-kegiatan seperti ini sangat diperlukan agar menyadarkan pemuda/i bahawasannya mereka harus siap hidup berdampingan dengan orang yang berbeda dengan dia.

Pemuda harus sadar bahwasannya kita di Indonesia bukan hanya satu agama, bukan hanya satu suku, bukan hanya satu budaya, bukan hanya satu ras, bukan hanya satu bahasa, bukan hanya satu seksual, bukan hanya satu gender tetapi kita beragam. Kita harus menghargai mereka yang berbeda dari kita, kita harus memberikan hak mereka. Untuk menerima yang berbeda memang sulit akan tetapi, mulailah terlebih dahulu untuk menghargai akan keberadaan mereka. Padahal banyak diantara kita mempunyai agama karena keturunan dari orang tua bukan pilihan kita sendiri. Mungkin kita sampai saat ini belum sadar akan hal itu. Jika pemuda/inya saja saat ini sudah bersikap intoleransi bagaimana lagi nasib bangsa ke depannya? Karena toleransilah yang menjadi kunci perdamaian untuk bangsa ini.

Bukan hanya di dunia nyata saja terjadi intoleransi, di dunia media sosial juga sering terjadi kasus intoleransi. Orang yang satu menjelek-jelekkan agama yang lain. Kasus tersebut kerap terjadi hingga saat ini. Dengan adanya kasus tersebut juga kita harus sadar untuk hati-hati menggunakan sosial media. Pikirkanlah ketika kita menjelekkan-jelekkan agama lawan kita maka bersiaplah yang menjadi korban adalah keluarga kita sendiri.

Kasus intoleransi terjadi dikarenakan tidak mengenalnya agama tersebut dengan baik. Maka benar pepatah mengatakan “Tak Kenal Maka Tak Sayang”, dengan pepatah tersebut kita kenali dulu agama yang selama ini kita anggap sesat. Pengenalan tersebut dilakukan dengan cara datangi langsung orang yang bersangkutan atau orang yang dapat memberikan penjelasan dengan baik tentang agamanya. Dengan begitu pasti penyebutan dan anggapan selama ini yang selalu mengatakan agamanya sesat menjadi berkurang. Setelah kita tau tentang agama yang selama ini kita katakan sesat maka langkah selanjutnya yang dapat kita lakukan adalah menceritakan ke orang terdekat kita bahwasannya agama yang dikatakan sesat sebenarnya seperti ini tidak seperti itu. Sulit? Pasti malah bisa-bisa kita yang dibilang sesat.

Menghargai teman yang berbeda agama juga dapat merajut perdamaian. Menghargai teman yang berbeda agama dapat kita lakukan dengan tidak mengejek teman yang berbeda agamanya dari kita, dan untuk yang non-Muslim jika saat sedang berpuasa tidak makan di depan temannya yang sedang berpuasa, tidak memfitnah yang berbeda agama, selalu menghargai agama yang dianutnya dan tidak menuntut ataupun memaksa dia untuk selalu ikut ajaran agama kita. Menolong, berteman dengan siapa saja tanpa melihat apa agamanya, apa seksualnya dan apa gendernya.

Live in (tinggal bersama) di dengan yang berbeda agama juga bisa dilakukan untuk merawat toleransi. Sulit? Pasti, terlebih untuk yang Muslim tinggal di satu rumah dengan orang yang non-Muslim. Tapi, kalau di antara kita yang Muslim masih merasa aneh jika tinggal dengan orang non-Muslim sangat disayangkan sekali. Karena, indah rasanya ketika pagi menjelang salat subuh teman kita yang non-Muslim membangunkan kita untuk salat subuh, mengingatkan kita salat dzuhur, dan itu semua sangat indah bila terjadi.

Berkunjung dan melakukan silaturahmi dengan yang berbeda agama juga menjadi salah satu cara untuk kita merajut perdamaian. Banyak orang menganggap bahwasannya agama lawannya itu adalah teroris, tukang bom, dll. Jadi, dengan cara melakukan silaturahmi dengan agama lain memperkenalkan dan menghilangkan stigma yang ada di mereka bahwasannya tidak semua penganut agama yang dimaksud itu teroris, dan tukang bom. Mereka yang jadi teroris, tukang bom itu yang dangkal akan pemahaman agamanya.

Akan tetapi, akhir-akhir ini intoleransi semakin marak dan berkembang sangat pesat di sekitar kita. Izin pendirian rumah ibadah menjadi alasan utama para kaum intoleransi. Padahal jika dipikir-pikir lagi, mereka yang melakukan ibadah tidak ada sedikit pun mengganggu kita, tidak ada sedikit pun mengusik kehidupan kita, lantas kenapa mereka harus diusik? Padahal mereka hanya ingin beribadah kepada Tuhan mereka dan mereka tidak sama sekali menganggu kita. Tidakkah lagi berpikir jika kita melakukan intoleransi di sini, bagaimana nasib keluarga yang seagama kita yang menjadi minoritas di suatu tempat. Karena kelompok yang mayoritas bisa menjadi minoritas di tempat lain. Jika mereka di tempat lain minoritas kemungkinan besar mereka juga akan merasakan diskriminasi oleh mayoritas.

Terkhusus untuk para mahasiswa, kita sebagai mahasiswa sekaligus aktor dari perubahan dan aktor mewujudkan Indonesia damai harus ikut berperan aktif dalam upaya memupuk kebanggaan dan penghormatan terhadap perbedaan yang ada di Indonesia. Kita sebagai mahasiswa harus berpikir keras dan kritis bagaimana caranya agar perdamaian di Indonesia, toleransi di Indonesia semakin meningkat dan tidak ada lagi kelompok minoritas didiskriminasi.

Jika sulit menerima mereka yang berbeda dari kita tapi hargailah keberadaan mereka di sekitar kita. Sadarlah bahwasannya kita hidup bukan hanya bercerita tentang kita saja melainkan bercerita tentang dia dan mereka tanpa terkecuali. Bayangkanlah jika kita yang menjadi minoritas dan kita yang mendapatkan perlakuan diskriminasi pasti kita sangat berharap untuk tidak adanya perlakuan diskriminasi. Mereka menjadi minoritas juga karena keyakinan mereka, nyawa juga dipertaruhkan oleh mereka untuk mempertahankan keyakinan mereka.

Stop intoleransi, stop diskriminasi, wujudkan Indonesia damai, Indonesia beragam tanpa diskriminasi jadilah aktor yang memperkuat kebhinekaan!

#SALAM TOLERANSI

 

====

Penulis mahasiswa Prodi Sosiologi Agama FIS UIN Sumut

Artikel ini sudah dimuat diharian Medan Bisnis.com