HMJ Sosiologi Agama UINSU Gelar Upgrading dan Rapat Kerja Periode 2026–2027

Medan, 9 Mei 2026. Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Sosiologi Agama Fakultas Ilmu Sosial Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UINSU) melaksanakan Upgrading dan Rapat Kerja (Raker) untuk periode 2026–2027 di Aula Kantor Desa Tuntungan II pada Sabtu (09/05/2026). Kegiatan yang mengusung tema “Meneguhkan Solidaritas, Membangun HMJ SA Berkualitas” ini diikuti seluruh pengurus baru dan berlangsung sejak pukul 08.00 WIB hingga selesai.

Kegiatan ini menjadi langkah awal untuk memperkuat kapasitas, pemahaman organisasi, dan membangun sinergi antar pengurus. Melalui upgrading, para pengurus mendapatkan pembekalan mengenai tanggung jawab organisasi, kepemimpinan, komunikasi, dan kerja sama, sekaligus mempererat hubungan kekeluargaan antar anggota. Acara dibuka secara resmi oleh Sekretaris Program Studi Sosiologi Agama, Rholand Muary, S.Sos., M.Si, yang menyampaikan, “Kepemimpinan bukan hanya tentang mengarahkan, tetapi juga bagaimana mengelola perbedaan dan konflik dengan bijaksana demi kepentingan organisasi.”

Materi pertama yang disampaikan oleh Rholand Muary mengangkat tema “Kepemimpinan dan Manajemen Konflik”. Beliau menekankan pentingnya membangun jiwa kepemimpinan yang bertanggung jawab, adaptif, dan mampu menciptakan suasana organisasi yang harmonis dan produktif.

Materi kedua membahas Job Desk Kepengurusan yang dipaparkan oleh Faiz Afza Ihsan. Ia menjelaskan tugas, fungsi, dan tanggung jawab masing-masing bidang serta departemen dalam struktur HMJ. “Pemahaman terhadap job desk sangat penting agar setiap pengurus dapat bekerja sesuai tugas pokoknya, serta berkoordinasi secara efektif dengan bidang lain,” ujar Faiz.

Materi ketiga mengupas SPPPK (Strategi Perencanaan Pengembangan Program Kerja) oleh Devin Shafiq Permana. Devin menekankan pentingnya perencanaan matang, sasaran jelas, indikator keberhasilan terukur, dan strategi pelaksanaan yang efektif. “Setiap program harus memberikan manfaat nyata bagi mahasiswa dan jurusan, bukan sekadar formalitas,” jelas Devin.

Setelah seluruh materi selesai, peserta aktif berdiskusi dan bertanya, menampilkan antusiasme tinggi terkait kepemimpinan, pembagian tugas, dan strategi pengembangan program kerja HMJ Sosiologi Agama periode 2026–2027. Acara kemudian ditutup dengan Rapat Kerja, di mana setiap bidang menetapkan program-program kerja sebagai pedoman pelaksanaan selama satu periode kepengurusan.

Melalui kegiatan ini, HMJ Sosiologi Agama UINSU menargetkan penguatan kapasitas pengurus, solidaritas, dan komitmen yang tinggi dalam menjalankan amanah organisasi. Dengan semangat kebersamaan dan profesionalisme, HMJ Sosiologi Agama diharapkan mampu menjadi organisasi aktif, berkualitas, dan memberikan kontribusi nyata bagi mahasiswa, jurusan, fakultas, dan masyarakat luas.

Alumni Sosiologi Agama UIN Sumut Tuntaskan Program Maganghub Kemnaker di Lapas Kelas I Medan

Medan. Tiga alumni Program Studi Sosiologi Agama UIN Sumatera Utara berhasil menyelesaikan program Maganghub Batch II yang diselenggarakan oleh Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker). Program ini diperuntukkan bagi lulusan baru (fresh graduate) dengan masa lulus maksimal satu tahun, sebagai sarana memperoleh on‑the‑job training sekaligus meningkatkan keterampilan profesional.

Alumni angkatan 2021, yakni Putri Rahayu, Asmih Arisah Harahap, dan Susilawati, mengikuti program magang selama enam bulan. Putri Rahayu ditempatkan di Lapas Kelas I Medan, Asmih Arisah di Lapas Kelas II Padang Sidempuan, dan Susilawati di Lapas Kelas II Pancur Batu, Deli Serdang.

Saya mendaftar sebagai sosiolog di Lapas Kelas I Medan dengan kuota empat orang. Setelah melalui proses screening CV, saya terpilih menjadi salah satu peserta magang,” ujar Putri Rahayu.

Program magang berlangsung dari 24 November 2025 hingga 23 Mei 2026, dengan berbagai manfaat bagi peserta, termasuk uang saku sesuai UMK daerah penempatan, sertifikat resmi dari Kemnaker, sertifikasi BNSP gratis, serta pengalaman profesional langsung di lapas.

Program Maganghub secara resmi dibuka oleh Kemnaker sebagai bagian dari upaya pemerintah untuk menjembatani dunia pendidikan dengan dunia kerja. Program Maganghub Batch II menawarkan puluhan ribu lowongan magang nasional bagi lulusan perguruan tinggi, sebagai kesempatan pengalaman kerja nyata dan penguatan kompetensi sebelum masuk ke pasar kerja formal.

Di Lapas Kelas I Medan, total peserta magang mencapai 45 orang dari berbagai jurusan dan posisi. Hari pertama magang diisi dengan apel pagi dan penandatanganan perjanjian pemagangan kinerja 2025, yang dipimpin langsung oleh Kepala Lapas, Bapak Herry Suhasmin, di Aula Gedung II. Pada hari kedua, peserta ditempatkan sesuai bidang yang telah dipilih. Putri Rahayu bertugas di bidang pembinaan warga binaan, yang memberikan pengalaman penting dalam memahami dinamika pemasyarakatan.

Selain kegiatan rutin, peserta magang juga mendapatkan pembekalan fisik dan keterampilan, seperti olahraga bela diri modern. Kegiatan ini dilaksanakan Jumat, 30 Januari 2026, di Aula Gedung II lantai 2 Lapas Kelas I Medan, untuk meningkatkan kemampuan pertahanan diri, ketangkasan, dan kebugaran peserta.

Semangat kepedulian sosial juga diwujudkan selama bulan suci Ramadhan. Pada 28 Februari 2026, klinik Lapas Kelas I Medan meningkatkan layanan kesehatan melalui pemeriksaan dan monitoring kondisi fisik warga binaan. Selain itu, pada 16 Maret 2026, Lapas Kelas I Medan menggelar kegiatan berbagi takjil dan buka puasa bersama pelaku UMKM di lingkungan lapas, sebagai bentuk kepedulian kepada masyarakat sekitar.

Ketua Program Studi Sosiologi Agama, Neila Susanti, M.Si, menyambut baik program ini. “Program magang seperti ini sangat bermanfaat bagi alumni kami karena dapat mendekatkan mereka pada dunia kerja dan memberikan pengalaman nyata di lapangan,” ujarnya. Program Maganghub Kemnaker tidak hanya menyiapkan lulusan baru untuk memasuki dunia kerja, tetapi juga memberikan kesempatan mengasah keterampilan sosial, profesional, dan kepemimpinan di lingkungan nyata, sesuai dengan fokus pengembangan lulusan berkualitas. RM

Prof. Dr. Irwansyah, M.Ag Dikukuhkan sebagai Guru Besar UINSU, Bahas Hubungan Antar Agama dan Pembelajaran dari Cina

Medan, 22 April 2026 – Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UINSU) Medan mencatat sejarah baru dalam perjalanan akademiknya melalui Sidang Senat Terbuka dalam rangka Pengukuhan dan Pelepasan Guru Besar. Kegiatan ini berlangsung khidmat di Gedung H. M. Arsyad Thalib Lubis, Kampus I Sutomo, Rabu, 22 April 2026.

Sidang senat terbuka tersebut menjadi momentum penting bagi UINSU dalam memperkuat tradisi akademik, riset, dan kontribusi keilmuan bagi masyarakat. Rektor UIN Sumatera Utara, Prof. Nurhayati, dalam sambutannya menegaskan bahwa gelar Guru Besar bukan sekadar pencapaian administratif atau simbol status sosial. Menurutnya, gelar tersebut merupakan amanah akademik dan moral untuk menjaga akal sehat publik.

Prof. Nurhayati menyampaikan bahwa para Guru Besar memiliki tanggung jawab besar dalam memberikan arah bagi masyarakat di tengah perubahan sosial, perkembangan teknologi informasi, dan kecerdasan buatan yang bergerak cepat. Ia menekankan pentingnya integrasi antara kecerdasan intelektual dan kedalaman spiritualitas Islam yang moderat.

Rektor juga mengingatkan bahwa akademisi tidak boleh hanya berada di ruang akademik, tetapi perlu hadir dalam kehidupan masyarakat. Para Guru Besar diharapkan mampu memberikan solusi konkret terhadap persoalan bangsa. Ia merujuk pada pesan Al-Qur’an Surah Al-Mujadalah ayat 11 tentang pengangkatan derajat bagi orang-orang yang beriman dan berilmu pengetahuan.

Salah seorang Guru Besar yang dikukuhkan ialah Prof. Dr. Irwansyah, M.Ag, dosen Program Studi Sosiologi Agama, Fakultas Ilmu Sosial UIN Sumatera Utara. Dalam pidato pengukuhannya, Prof. Irwansyah mengangkat tema “Satu Umat, Banyak Agama: Perspektif Akademik tentang Hubungan Antar Agama dan Pembelajaran dari Cina.”

Dalam pidato tersebut, Prof. Irwansyah menjelaskan hubungan antara kesatuan manusia dan keragaman keyakinan. Ia merujuk pada QS. Al-Baqarah ayat 213 yang menggambarkan prinsip kesatuan umat manusia, serta QS. Al-Kafirun yang menegaskan batas perbedaan iman. Dua prinsip tersebut menjadi dasar penting dalam memahami hubungan antar agama secara akademik.

Menurut Prof. Irwansyah, Indonesia merupakan laboratorium sosial yang penting bagi studi pluralisme. Dengan jumlah penduduk lebih dari 270 juta jiwa, ratusan etnis, dan beragam agama, Indonesia memiliki pengalaman panjang dalam interaksi lintas iman. Namun, ia menegaskan bahwa kohesi sosial tidak selalu berjalan otomatis di tengah keberagaman. Kohesi sosial sangat dipengaruhi oleh faktor struktural, kebijakan publik, dan tata kelola ruang sosial.

Dalam analisisnya, Prof. Irwansyah menawarkan pendekatan tripartit dalam memahami agama. Pertama, perspektif genealogis yang melihat agama sebagai konstruksi historis. Kedua, perspektif teologis yang memahami agama sebagai respons eksistensial manusia terhadap yang transenden. Ketiga, perspektif sosiologis yang melihat agama sebagai institusi sosial yang membentuk solidaritas, norma, dan tindakan sosial.

Dari ketiga pendekatan tersebut, ia menyimpulkan bahwa agama memiliki tiga dimensi utama, yaitu sistem keyakinan, sistem ritus, dan sistem norma. Kesamaan struktur ini membuka ruang dialog antar umat beragama, sedangkan perbedaan substansi menjadi bagian dari dinamika sosial yang perlu dikelola secara adil dan bijak.

Prof. Irwansyah menegaskan bahwa tantangan utama hubungan antar agama tidak hanya terletak pada doktrin teologis, tetapi juga pada tata kelola ruang publik. Karena itu, hubungan antar agama membutuhkan pendekatan akademik, kebijakan yang inklusif, dan kerja sosial yang berkelanjutan.

Ia juga menawarkan lima agenda akademik-strategis. Agenda tersebut meliputi institusionalisasi literasi keagamaan berbasis riset, penguatan pusat studi lintas iman, transformasi dialog normatif menjadi kolaborasi sosial, rekonstruksi kebijakan publik berbasis keadilan inklusif, serta pengembangan kapasitas generasi muda dalam berpikir kritis dan pluralistik.

Dalam konteks tersebut, Prof. Irwansyah menilai UIN Sumatera Utara memiliki posisi strategis sebagai pusat pengetahuan dalam studi hubungan antar agama dan kawasan Asia, khususnya Cina. Indonesia dengan dasar Pancasila memiliki modal normatif dan historis untuk menjadi model global dalam pengelolaan pluralisme. Namun, potensi tersebut hanya dapat terwujud melalui kerja akademik yang sistematis, kritis, dan berkelanjutan.

Program Studi Sosiologi Agama Fakultas Ilmu Sosial UINSU menyambut baik pengukuhan Prof. Dr. Irwansyah, M.Ag sebagai Guru Besar. Capaian ini menjadi kebanggaan bagi sivitas akademika Prodi Sosiologi Agama sekaligus memperkuat kontribusi keilmuan prodi dalam kajian agama, masyarakat, pluralisme, dan hubungan antar umat beragama.

Pengukuhan ini diharapkan menjadi dorongan baru bagi pengembangan riset, publikasi ilmiah, dan kolaborasi akademik di lingkungan UINSU. Khususnya dalam memperkuat peran Sosiologi Agama sebagai disiplin ilmu yang relevan dalam membaca perubahan sosial, dinamika keberagamaan, dan tantangan kehidupan masyarakat multikultural. (RM)

Pembekalan dan Pelepasan PKL Mahasiswa Prodi SA

Deli Serdang. Fakultas Ilmu Sosial UIN Sumatera Utara melaksanakan pembekalan dan pelepasan mahasiswa untuk Praktik Kerja Lapangan (PKL) Tahun 2025-2026 di Aula FIS UIN Sumut, Selasa (06/01). Adapun mahasiswa yang akan melaksanakan PKL Berasal dari tiga Program Studi (Prodi) yang ada di FIS UIN Sumut yakni Ilmu Perpustakaan, Sejarah Peradaban Islam dan Sosiologi Agama.

Kepala Laboratorium FIS UIN Sumut, Rahmad Hidayat, M.Hi mengatakan dalam sambutannya bahwa pelaksanaan PKL pada tahun 2026 ini dilaksanakan mulai tanggal 07 Januari hingga 07 Febuary 2026 yang tersebar di beberapa instansi pemerintah, instansi swasta, Non Government Organization (NGO) dan ormas keagamaan.
Pembekalan dan pelepasan dalam kegiatan ini dibagi ke dalam dua sesi.

“ Pelaksanaan PKL ini selama satu bulan, porsinya setara dengan 4 SKS”, ujar Rahmad Hidayat, M.Hi.

Oleh sebab itu, dalam pelaksanaannya, harus memenuhi kaidah akademik, termasuk nantinya membuat laporan PKL mahasiswa. Untuk oleh sebab itu, dosen pada masing-masing Prodi juga ditugaskan sebagai dosen pamong untuk membimbing mahasiswa dalam pelaksanaan PKLnya.

Sementara itu, Ketua Program Studi Sosiologi Agama, Neila Susanti, M.Si mengatakan bahwa khusus untuk program studi Sosiologi Agama pada tahun ini menugaskan sebanyak 37 mahasiswa yang akan melaksanaan PKL yang tersebar di 7 lembaga tidak hanya di kota Medan namun juga di luar kota Medan.

Tujuan PKL ini, memberikan memberikan peluang dan kesempatan kepada mahasiswa untuk mengimplementasikan ilmu dan keterempilan yang selama ini diperoleh di bangku perkuliahan, “ ujar Neila Susanti, M.Si didampingi Sekretaris Prodi Sosiologi Agama, Rholand Muary, M,Si.

Neila menambahkan, dengan PKL ini diharapkan, mahasiswa memiliki nalar kritis, kreatif dan inovatif terhadap fenomena sosial keagamaan yang terjadi, sekaligus memiliki kepekaan sosial bagi pemecahan berbagai persoalan keagamaan.

Dekan Fakultas Ilmu Sosial (FIS) UIN Sumatera Utara, Prof. Dr Mesiono, M.Pd yang diwakili oleh Wakil Dekan bidang kemahasiswaan, Yoserizal Saragih, M.Ikom dalam sambutannya menegaskan pentinnya menjaga akhlak dalam beraktivitas selama pelaksanaan PKL. Oleh sebab itu perlu berkomunikasi dengan baik kepada penanggung jawab di masing-masing lembaga dan tentunya meminta bimbingan pada dosen pamong masing masing. Acara dibuka oleh Wakil Dekan bidang kemahasiswaan dan dihadiri oleh dosen Fakultas Ilmu Sosial UIN Sumatera utara dan ditutup dengan foto bersama. (RM)