Perkuat Riset dan Luaran, Prodi SA Gelar Pelatihan Penulisan Etnografi dan Monografi bagi Mahasiswa Sosiologi Agama

Deli Serdang. Program Sudi Sosiologi (Prodi) Agama Fakultas Ilmu Sosial UIN Sumatera Utara Medan menggelar pelatihan penulisan etnografi dan monografi bagi mahasiswa Prodi Sosiologi Agama di Aula Kampus FIS UIN Sumut Jalan Padang Golf Pancur Batu Deli Serdang, Selasa (10/10).

Adapun narasumber pada kegiatan ini yakni Agung Suharyanto, M,Si yang merupakan Antropolog Universitas Medan Area (UMA) dan Nasrullah Hidayat, M. Si dari Universitas Negeri Medan. Acara ini dipandu oleh moderator Aulia Kamal dosen Prodi Sosiologi Agama.

Ketua Prodi Sosiologi Agama, Neila Susanti, M.Si dalam sambutannya mengajak mahasiswa Sosiologi agama untuk terlibat aktif mengikuti kegiatan ini sebab pemahaman dan pengetahuan dari para narasumber ini sangat penting untuk menyusun tugas akhir baik itu dalam bentuk Skripsi maupun artikel Jurnal terakreditasi nasional

Dekan Fakultas Ilmu Sosial UIN Sumatera Utara Medan, Dr. Nursapia, MA dalam sambutannya mengapresiasi kegiatan ini dan berharap luaran dalam kegiatan pelatihan ini juga memberikan energy yang lebih kepada mahasiswa untuk melakukan riset lapangan dan bisa berkolaborasi dengan dosen untuk menghasilkan jurnal nasional terakreditasi. Selain itu juga bentuk dukungan dari Fakultas Ilmu Sosial untuk tahun depan sudah dianggarkan lebih banyak untuk publikasi dosen

“ Tahun depan sudah kita anggarkan untuk biaya publikasi dosen, maka diharapkan dosen bisa berkolaborasi dengan mahasiswa agar menghasilkan luaran penelitian yang berkualitas, selain itu juga biaya HaKi nya juga ditanggung oleh fakultas” kata Dekan didampingi oleh Wakil Dekan 1, Dra. Retno Sayekti, M.Lis

Sementara itu, Agung Suharyanto, M.Si mengatakan bahwa etnografi dianggap mampu menggali informasi secara mendalam dengan sumber sumber luas. Adapun ciri-ciri dari etnografi itu sendiri yakni participant observer, interpretasi deskripsi, rfelski, etika identitas, urgenitas dan informan kunci.

“ Etnografi memunginkan peneliti untuk mendapatkan pemahaman mendalam tentang kehidupan sehari-hari , dan makna dibalik tindakan dan interaksi sosial dalam konteks budaya tertentu” ujar Agung yang juga Kepala unit Pusat Jurnal Ilmiah (PJI) Universitas Medan Area ini.

Selain itu Nasrullah Hidayat, M.Sc mengatakan tujuan penulisan monografi yakni memberikan gambaran yang komprehensif tentang topik yang dipilih, seringkali termasuk ulasan literature yang menyeluruh, temuan penelitian asli dan analisis rinci. Maka dari itu cara/langkah yang diambil oleh peneliti untuk mencapai tujuan penelitian baik penelitian kualitatif maupun kuantitatif. Langkah-langkah yang mengikuti logika, struktur dan prinsip metodologi dan metodelogi serta bagaimana hubungan antara rancangan tersebut berkaitan dengan pertanyaan/rumusan masalah penelitian dan hopotesa penelitian yang akan dilakukan, (RM)

Empat Dosen Sosiologi Agama Peroleh Sertifikat Profesional Sebagai Mediator Konflik Sosial-Keagamaan

Medan. Persekutuan Gereja Indonesia (PGI) bersama Pusat Studi Agama dan Demokrasi (PUSAD) Paramadina menyelenggarakan kegiatan fellowship pelatihan Mediasi Profesional bagi tokoh agama dan masyarakat sipil di Sumatera Utara. Acara tersebut dugelar di hotel Emerald Garden, 18-22 September 2023.

Setelah melakukan seleksi berkas dan wawancara, maka terpilih lah 30 peserta yang berhak mengikuti pelatihan mediasi profesional. Dari 30 peserta yang dinyatakan lolos dan berhak mengikuti pelatihan, 4 orang diantaranya adalah dosen prodi Sosiologi agama, fakultas ilmu sosial UIN Sumatera Utara. Keempat dosen tersebut adalah Dr. Irwansyah, M. Ag, Aulia Kamal, MA, Purjatian Azhar, M. Hum dan Muhammad Irfan M. Hum.

Pelatihan tersebut sangat bermanfaat. Sebab, bila melihat kondisi Sumatera Utara sebagai salah satu provinsi yang memiliki ragam agama, budaya dan kebiasaan. Keanekaragaman tersebut tentunya disatu sisi lahir sebagai anugrah dari yang maha Kuasa, namun disini lain tentu saja bisa melahirkan potensi-potensi konflik apabila tidak dijaga dan di rawat dengan baik. Sehingga pada akhirnya diperlukan aktor-aktor sebagai mediator dalam membantu menyelesaikan konflik yang ada, baik konflik antar umat beragama, konflik sosial dan konflik budaya.

Pelatihan tersebut mengusung konsep untuk praktik bersama menjadi mediator. Selama lima hari proses tersebut empat hari digunakan untuk melatih skill para peserta menjadi mediator yang baik dan handak. Skill-skill tersebut meliputi skill mendengar, copas, lebeling, paraprhasing dan repreaming. Selain itu peserta juga dilatih untuk mampu bernegosiasi, mendefenisikan masalah dan proses kaukus bila kesepakatan tidak didapatkan.

Tentu saja pelatihan tersebut membarikan banyak manfaat bagi para peserta yang datang dari berbagai latar belakang yang berbeda, khususnya bagi dosen-dosen prodi Sosiologi agama.

Ketua Program Studi Agama FIS UIN Sumut, Neila Susanti, M,Si mengapresiasi kegiatan pelatihan mediator konflik sosial keagamaan yang diselenggarakan oleh PGI dan PUSAD Paramadina. Dia menilai bahwa untuk Sumatera Utara pontensi konflik yang bernuansa agama dan identitas lainnya bisa saja muncul di permukaan publik. Maka dengan melahirkan mediator yang turut memediasi konflik akan meminimalisir dan mencari titik temu kesepakatan bersama.

” Kami sangat senang sekali, dosen dosen Sosiologi Agama ikut dalam pelatihan mediator profesional dalam bidang sosial keagamaan, ini menjadi energi bagi kami untuk menambah kemampuan dosen dosen kami sebagai mediator dan dimanfaatkan baik bagi masyarakat” Ujar Neila didampingi Sekretaris Prodi SA, Rholand Muary, M.Si

Dirinya pun bersyukur semoga kegiatan pelatihan mediator profesional ini punya tidak lanjut dan terus dilakukan dalam menjaga kekndusifitasan dalam hubungan antar agama, bangsa dan budaya di Indonesia.


Sementara itu , Wakil Direktur PUSAD Paramadina, Husni Mubarak menyampaikan bahwa kerja sama dengan bidang KKC PGI ini dilatarbelakangi kesamaan misi PUSAD dalam membangun perdamaian di tengah masyarakat. Beragam penelitian dan penelitian telah PUSAD lakukan tidak hanya terkait mediasi ini.

Husni juga menambahkan,bahwa banyak konflik atau sengketa yang terjadi di masyarakat membutuhkan penanganan secara bijak dengan jalan mediasi, tidak hanya dengan pendekatan hak atau secara hukum. Sehingga para pihak yang berkonflik dapat terpenuhi kebutuhannya, terjadi kesepakatan yang adil bagi para pihak dimaksud. (PA/RM)