Prodi Sosiologi Agama FIS UIN Sumut Dukung Perlindungan dan Akses PendidikanTinggi bagi Pengungsi

Medan, 6 Agustus 2026. Program Studi Sosiologi Agama Fakultas Ilmu Sosial (FIS) Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UIN Sumut) menunjukkan kepedulian terhadap isu kemanusiaan dan perlindungan kelompok rentan dengan turut berpartisipasi dalam kegiatan “Advocacy and Refresher Session on Refugee Protection and Access to Higher Education with Academia” yang diselenggarakan oleh United Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR) Indonesia, Kamis (6/8/2026), di Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU), Medan.

Program Studi Sosiologi Agama FIS UIN Sumut diwakili oleh Sekretaris Program Studi Sosiologi Agama, Rholand Muary, M.Si. Kehadirannya menjadi bentuk dukungan Program Studi Sosiologi Agama terhadap upaya perlindungan pengungsi sekaligus penguatan akses pendidikan tinggi bagi mereka sebagai bagian dari pemenuhan hak dasar dan nilai-nilai kemanusiaan.

Partisipasi tersebut juga mencerminkan perhatian Prodi Sosiologi Agama terhadap berbagai persoalan sosial kontemporer yang tidak hanya berkembang pada tingkat lokal dan nasional, tetapi juga berkaitan dengan dinamika masyarakat global. Isu pengungsi tidak semata-mata berkaitan dengan aspek hukum dan kebijakan, tetapi juga menyangkut persoalan integrasi sosial, penerimaan masyarakat, identitas, keberagaman budaya, pendidikan, serta pemenuhan hak-hak kelompok rentan.

Kegiatan yang diinisiasi UNHCR Indonesia tersebut mempertemukan akademisi dan perwakilan sejumlah perguruan tinggi di Sumatera Utara dalam sebuah forum dialog, pembelajaran, dan pertukaran pengalaman mengenai perlindungan pengungsi serta peluang memperluas akses mereka terhadap pendidikan tinggi. Dalam forum tersebut, para peserta memperoleh pemahaman terkini mengenai prinsip-prinsip perlindungan pengungsi, hak-hak dasar pengungsi, perkembangan kebijakan di Indonesia, serta berbagai tantangan yang dihadapi dalam memberikan kesempatan pendidikan kepada kelompok pengungsi. Perguruan tinggi dipandang memiliki posisi strategis untuk membangun lingkungan pendidikan yang lebih inklusif sekaligus memperkuat kesadaran masyarakat terhadap persoalan kemanusiaan.

Protection Associate United Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR) Oktina Hafanti, mengatakan dunia akademik dapat mengambil peran lebih besar dalam membuka ruang belajar dan pemberdayaan bagi pengungsi. Sejumlah praktik baik dari perguruan tinggi turut dibahas, mulai dari penyediaan program akademik, pelatihan keterampilan, penguatan kapasitas, hingga berbagai kegiatan pemberdayaan yang memungkinkan pengungsi tetap memperoleh kesempatan mengembangkan diri.

Selain itu, peserta juga mendiskusikan berbagai tantangan yang masih dihadapi pengungsi dalam memperoleh akses pendidikan tinggi, seperti persoalan administrasi, pengakuan dokumen pendidikan, regulasi, hingga kebutuhan akan lingkungan kampus yang inklusif tanpa membedakan latar belakang kebangsaan maupun status kewarganegaraan.

Sekretaris Prodi Sosiologi Agama, Rholand Muary, M.Si. mengatakan keterlibatan perguruan tinggi dalam isu pengungsi penting untuk terus diperkuat. Bagi Program Studi Sosiologi Agama, persoalan pengungsi memiliki dimensi sosial yang luas karena berkaitan erat dengan kehidupan kelompok rentan, relasi sosial, keberagaman, solidaritas, serta kemampuan masyarakat dalam menerima individu maupun kelompok dengan latar belakang berbeda.

Kehadiran Prodi Sosiologi Agama FIS UIN Sumut dalam kegiatan tersebut sekaligus menjadi bentuk dukungan akademik dan moral kepada para pengungsi, khususnya dalam memperjuangkan kesempatan memperoleh pendidikan yang layak. Pendidikan menjadi salah satu instrumen penting agar para pengungsi dapat terus mengembangkan kapasitas, membangun kemandirian, dan memiliki harapan terhadap masa depan yang lebih baik.

Melalui partisipasi dalam forum bersama UNHCR Indonesia ini, Program Studi Sosiologi Agama FIS UIN Sumut menegaskan komitmennya untuk terus hadir dalam diskusi dan kerja-kerja akademik yang berkaitan dengan isu sosial dan kemanusiaan. Keterlibatan tersebut diharapkan dapat membuka peluang kolaborasi lebih luas antara perguruan tinggi, organisasi internasional, dan berbagai pemangku kepentingan dalam mendorong terciptanya masyarakat yang lebih inklusif, berkeadilan, toleran, dan memiliki kepedulian terhadap kelompok rentan. (RM)

ASAGI Gelar MUNAS dan Kongres 2026 di UIN Sunan Kalijaga, Prodi Sosiologi Agama UIN Sumut Perkuat Jejaring Nasional

Yogyakarta — Program Studi Sosiologi Agama Fakultas Ilmu Sosial (FIS) UIN Sumatera Utara turut berpartisipasi dalam kegiatan Musyawarah Nasional (MUNAS) dan Kongres Sosiologi Agama Indonesia (KSA) 2026 yang diselenggarakan oleh Asosiasi Sosiologi Agama Indonesia (ASAGI) di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta pada 3–4 Agustus 2026. Kegiatan nasional ini mengusung tema “Agama di Era Disrupsi Digital: Transformasi Religiositas, Otoritas, dan Solidaritas Sosial di Indonesia.”

Dalam kegiatan tersebut, Program Studi Sosiologi Agama FIS UIN Sumatera Utara diwakili oleh Ketua Program Studi Sosiologi Agama, Neila Susanti, M.Si., dan Sekretaris Program Studi Sosiologi Agama, Rholand Muary, M.Si. Kehadiran delegasi ini menjadi bagian dari komitmen Program Studi Sosiologi Agama UIN Sumatera Utara dalam memperkuat jejaring akademik, kelembagaan, serta pengembangan keilmuan Sosiologi Agama di tingkat nasional.

MUNAS ASAGI 2026 menjadi forum penting bagi seluruh anggota ASAGI untuk melakukan konsolidasi organisasi, mengevaluasi perjalanan kepengurusan sebelumnya, menyusun arah program kerja, serta merumuskan rekomendasi strategis bagi pengembangan organisasi ke depan. Agenda MUNAS mencakup pembahasan laporan pertanggungjawaban pengurus, sidang komisi, pembahasan AD/ART, program kerja, rekomendasi organisasi, hingga pemilihan kepengurusan ASAGI periode berikutnya.

Dalam proses pemilihan Ketua Umum ASAGI periode 2026–2028, forum MUNAS menetapkan Dr. Adib Sofia, M.Hum. sebagai Ketua Umum ASAGI terpilih. Dr. Adib Sofia merupakan dosen Program Studi Sosiologi Agama UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang selama ini aktif dalam pengembangan kajian Sosiologi Agama dan penguatan jejaring akademik. Terpilihnya kepemimpinan baru ini diharapkan mampu membawa ASAGI semakin berkembang sebagai organisasi akademik yang berperan dalam memperkuat kajian Sosiologi Agama di Indonesia.

Pada kesempatan yang sama, ASAGI menyampaikan apresiasi dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada Dr. Sehat Ihsan Shadiqin, M.A., dosen Program Studi Sosiologi Agama UIN Ar-Raniry Banda Aceh, atas dedikasi dan pengabdian beliau selama menjabat sebagai Ketua Umum ASAGI periode 2024–2026. Kepemimpinan Dr. Sehat Ihsan Shadiqin telah memberikan kontribusi penting dalam memperkuat organisasi, membangun komunikasi antarprogram studi, serta mendorong pengembangan keilmuan Sosiologi Agama di Indonesia.

Selain agenda organisasi, Kongres Sosiologi Agama Indonesia menjadi ruang akademik bagi para perwakilan program studi dan akademisi dari berbagai daerah untuk mempresentasikan perkembangan serta kekhasan kajian Sosiologi Agama di wilayah masing-masing. Forum ini juga menjadi wadah pertukaran gagasan dalam merumuskan agenda riset nasional dan peluang kerja sama akademik antarperguruan tinggi.

Melalui tema besar mengenai agama di era disrupsi digital, peserta Kongres mendiskusikan berbagai perubahan sosial-keagamaan yang terjadi dalam masyarakat, mulai dari transformasi pola keberagamaan, perubahan otoritas keagamaan, hingga perkembangan ruang digital sebagai arena baru interaksi sosial dan keagamaan. Tema tersebut dinilai relevan dengan tantangan keilmuan Sosiologi Agama saat ini yang semakin membutuhkan pendekatan kritis dan kontekstual.

Ketua Program Studi Sosiologi Agama FIS UIN Sumatera Utara, Neila Susanti, M.Si., menyampaikan bahwa keterlibatan dalam forum nasional ASAGI merupakan langkah strategis untuk memperkuat posisi Program Studi Sosiologi Agama UIN Sumatera Utara dalam jejaring keilmuan nasional. Sementara itu, Sekretaris Program Studi Sosiologi Agama, Rholand Muary, M.Si., menambahkan bahwa hasil MUNAS dan Kongres dapat menjadi referensi penting bagi pengembangan kurikulum, penelitian, serta kerja sama akademik di tingkat program studi.

Kegiatan MUNAS dan Kongres ASAGI 2026 diharapkan mampu menghasilkan penguatan kelembagaan, agenda kerja sama riset, serta rekomendasi strategis bagi perkembangan Sosiologi Agama di Indonesia. Melalui forum ini, Program Studi Sosiologi Agama FIS UIN Sumatera Utara terus berkomitmen untuk berkontribusi dalam pengembangan ilmu pengetahuan, memperluas jejaring akademik, dan memperkuat peran Sosiologi Agama dalam membaca dinamika sosial masyarakat Indonesia. RM